Bunda Bilqis : Kesetaraan Gender Isu yang Tak Pernah Padam

FAST RESPON POLITIK

SUMEDANG, SabaraNews – Kesetaraan Gender atau dengan istilah kebarat-baratan disebut dengan Gender Equality masih dan selalu menjadi topik hangat yang kerap kali diperbincangkan di dalam forum formal atau bahkan saat sedang ngobrol santai. Demikian diucapkan Hj. Yuslita Sumartini Bilqis, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (10/6/2023).

Menurut Bacaleg Partai Golkar DPRD II Kabupaten Sumedang untuk Dapil III (Paseh – Conggeang – Tomo – Jatigede – Jatinunggal – Ujungjaya) ini, bicara soal kesetaraan gender tidak akan ada habisnya di negara dengan budaya patriarkinya yang masih melekat di masyarakat. Kesetaraan gender merupakan keadaan saat setiap orang memiliki kedudukan dan hak yang sama tanpa dibedakan oleh jenis kelamin.

Nilai-nilai dalam upaya mendorong kesetaraan gender yaitu tidak lain untuk menciptakan masa depan perempuan di dunia, utamanya Indonesia dan Sumedang menjadi lebih baik dan sekaligus untuk menjawab berbagai tantangan di masa depan,'” ucapnya.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Bilqis ini menyebut, tingkat kesetaraan gender di Indonesia, termaauk di Kabupaten Sumedang masih terbilang rendah. Hal ini dilihat dari Indeks Kesetaraan Gender yang diterbitkan oleh Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) bahwa Indonesia masuk dalam ketiga terendah se-Asean dengan peringkat 103 dari 162 Negara.

Selain itu, melihat dari data Indeks Pembangunan Gender (IPG) er-2018, Indonesia berada di angka 90,99. Jika dilihat dari Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), RI berada di angka 72,1.

Sesuai dari data tersebut, dapat dilihat bahwa perempuan bisa dibilang masih tertinggal di belakang laki-laki baik dalam beberapa sektor, salah satunya dalam sektor ekonomi. Contohnya dalam kesenjangan upah, meskipun keduanya melakoni pekerjaan yang sama, namun terdapat perbedaan antara perempuan dan laki-laki,” paparnya.

Padahal, masih disebut Bunda Bilqis, kontribusi perempuan dalam meningkatkan potensi pembangunan ekonomi yang nyata sangat dianggap penting di setiap negara. Namun faktanya, justru tantangan dalam merealisasikan kesetaraan gender di Indonesia dipicu oleh nilai patriarki dan konstruksi sosial masyarakat.

Adapun konsep kesetaraan gender diartikan sebagai kondisi perempuan dan laki-laki dipandang sama dan memiliki hak untuk berkontribusi dan memiliki akses yang setara dalam aspek pembangunan. Kesetaraan gender ini berperan penting dalam mendorong pertumbuhan yang inklusif.

Sayangnya, kesetaraan gender masih belum dapat terpenuhi di berbagai negara karena isunya yang sangat kompleks. Masih banyaknya tindakan diskriminasi yang dilakukan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki, selain itu kerap kali adanya ketidakadilan terjadi yang lagi-lagi menampakkan kelemahan dari sisi perempuan.

Seharusnya, seiring berkembangnya zaman, terkhusus di era globalisasi saat ini, penting untuk memiliki kesadaran dalam mewujudkan kesetaraan gender demi kepentingan dunia yang lebih adil agar tidak lagi terjadi ketimpangan gender satu sama lain tanpa terkecuali,” pungkas Bunda Bilqis.

(Edy MS)

Share to :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *